Di antara berbagai bentuk krisis nasional maupun global,krisis ekonomi umumnya palingf banyak di rasakan. Ini di akui di utara maupun di selatan, di barat maupun di timur. Golongan konservatif yaitu mempertahankan keadaan status quo, juga mengakui adanya krisis dalam sistem yang berlaku, tetapi mereka percaya bahwa jalan keluar pasti akan dapat di temukan setelah di lakukan perubahan dan penyesuaian.Kebekuan akan cair kembali dan perkembangan akan terus berlanjut menurut garis yang liner, bahkan kemajuan yang eksponensial bukan tidak mungkin di capai di kemudian hari.
Krisis itu mungkin saja masih dapat di atasi dengan suatu perubahan marginal, teta[i keadaan akan makin memburuk dan akhirnya akan memasuki tahap baru krisis yang makin mendalam. DI indonesia krisis ekonomi itu kita lihat dalam gejala resesi perekonomian dunia yang bersumber pada negara-negara maju. Dampak resesi itu mengakibatkan turunya laju pertumbuhan dan penghambatan pembangunan ekonomi di indonesia.
Lajunya perekonomian di negara-negara maju berarti terbentuknya ekspor dan menigkatnya investasi ke Dunia Ketiga.
Penaikan harga minyak oleh OPEC di nyatakan sebagaipangkal sebab resesi. Dalam kenyataannya gejala menurunya tingkat produktivitas sudah tampak menggejala di negara-negara industri utama dan krisis moneter telah terjadi sebelum tahun 1973,persisnya meledak pada tahun 1971,ketika Amerika serikat mempelopori meninggalkan sistem moneter internasional Bretton Woods.
Penaikan harga minyak, tuntunan menyeimbangkan nilai tukar dagang antara bahan-bahan mentah denagn barang-barang industri, pengalihan teknologi atau penigkatan bantuan dari negara-negara maju ke negara-negara sedang berkembang adalah merupakan manifestasi kesadaran membangun dan memberantas kemiskinan di negara-negara tersebutterakhir,yaitu kesadaran untuk mengejar ketinggalan dalam proses industrialisasi global yang hanya bisa di lakukan apabila negara-negara yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk memperoleh modal dan teknologi.
Pemulihan kegiatan ekonomi di negara-negara industri maju,hingga kini memang masih sulit di capai. Kebijakan ekonomi Reaganimic atau supply-side policies di amerika serikat yang bertujuan untuk merangsang kegiatan sektor swasta ternyata berhadapan dengan kegiatan struktur ekonomi yang telah tertanam secara mendalam.Lebih dari itu sesungguhnya hampir semua bidang industri telah mencapai titki jenuh, sementara bidang-bidang penanaman modal yang baru belum begitu banyak di temukan dan sekalipun ada masih di niali mengandung resiko yang tinggi di samping membutuhkan dana investasi yang besar.
Dibalik gejala kejenuhan atau kelebihan produksi sebenarnya yang terjadi adalah persaingan antara kekuatan-kekuatan ekonomi,yaitu antara Amerika Serikat dengan MNC yang merupakan pendukung utama kekuatan ekonomi negara-negara industri itu. Dalam situasi persaingan yang ketat itu maka yang timbul ialah perang dagan internasional yang sengit.Senjata-senjata yang di tembakan adalah devaluasi mata uang masing-masing negara untuk merangsang ekspor, proteksionosme, atau subsidi terhadap komodit ekspor. Sementara itu untuk menghadapi barang- barang impor atau produksi perusahaan asing, telah timbul secara mendesak kebutuhan untuk melakukan restukturisasi industri. Ini di butuhkan agar produktivitas dan mutu barang bisa di tingkatkan selain untuk menghindari ongkos buruh yang telah mahal.
Restrukturisasi sudah tentu membutuhkan modal yang sangat besar. Sementara itu dunia industri di negara-nrgara maju sebenarnya sudah makin tenggelam dalam hutang.Bank sudah tentu menjadi lebih berhati-hati dalam meminjamkan uang kepada sektor industri, Sebagaimana juga Bank Dunia dan bank-bank komersial di negara-negara maju kini juga telah dan harus berhati-hati untuk memperluas pinjamannya kepada negara-negara sedang berkembang.
|
Krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat sudah terlihat tanda-tandanya beberapa waktu yang lalu, Tetapi baru dianggap serius oleh pemerintah Indonesia sejak tanggal 8 Oktober 2008 saat IHSG di BEI turun tajam sampai 10,38 % dan mengharuskan pemerintah menghentikan kegiatan di pasar bursa modal beberapa hari. Sebenarnya banyak akibat yang dirasakan oleh Indonesia dengan adanya krisis keuangan di Amerika serikat , baik akibat positif seperti turunnya harga minyak dunia yang menembus $ 61 per barel dan akibat negative seperti turunnya nilai rupiah, berkurangnya nilai export, turunnya investasi atau terjadi flyingout , namun demikian akibat negatif lebih banyak dirasakan bagi perekonomian Indonesia terutama bagi sektor riil yang mempunyai pangsa export, pemerintah harus sungguh-sungguh menangani masalah ini karena pada akhirnya apabila tidak tertangani dengan benar akan mengakibatkan distabilitas negara atau sering orang bilang akan terjadi Krisis seri kedua. Lebih lanjut Ridwan (dosen Ek. Pembangunan UJB)menegaskan , bahwa harus ada langkah-langkah antisipasi menghadapi krisis keuangan global anatara lain, tetap menjaga independensi pengambil keputusan, sebisa mungkin mempertahankan tingkat suku bunga yang ada saat ini, peningkatan pagu jaminan simpanan pada Lembaga Keuangan Nasional, Penginjeksian secara besar-besaran likuiditas ke dalam perbankan nasioanal, pemberlakuan kontrol devisa terbatas , pembentukan lembaga procurement untuk mengatur transaksi devisa BUMN, keharusan izin bank sentral bagi transaksi arus ke luar modal dalam jumlah tertentu. Disamping itu diskusi juga merekomendasiakan : Penyiapan satu skema social safety net yang komprehensif untuk mengantisipasi full-blown crisis , pemerintah daerah secara lebih erat sebagai mitra dan pelaksana berbagai kebijakan yang ditetapkan, mewaspadai politik dumping , menyiapakan insentif bagi pengusaha lokal untuk menggarap pasar domestik, dan merekomendasikan untuk mengkaji ulang sistem ekonomi yang selama ini mengekor pada sistem ekonomi kapitalis. |
- CARA MENGATASI KRISIS EKONOMI GLOBAL
Mengatasi Penyebab dan Dampak Krisis Ekonomi Global masih menjadi berita hangat tanpa melewati satu hari pun dalam bulan-bulan terakhir ini. Berbicara krisis ekonomi adalah bukan berbicara tentang nasib 1 (satu) orang bahkan lebih dari itu semua karena ini menyangkut nasib sebuah bangsa. Berbagai argument dan komentar pun dilontarkan di berbagai media yang selalu memojokkan pemerintahan Yudhoyono dan BI (Bank Indonesia) Di salah satu media menyatakan bahwa Presiden Yudhoyono menyampaikan 10 langkah untuk menghadapi masalah tersebut. Empat di antaranya:
1. Meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri
2. Memanfaatkan peluang perdagangan internasional
3. Menyatukan langkah strategis Pemerintah dengan Bank Indonesia (BI)
4. Menghindari politik non partisan untuk menghadapi krisis.
Kedengarannya memang masuk akal tapi untuk menghadapi krisis itu bukanlah semata adalah tugas pemerintah dan Bank Indonesia tapi badai krisis ini perlu dihadapi bersama jangan sampai kejadian Krisis Ekonomi Global Part II ini lebih dahsyat meluluh-lantakkan Perekonomian Indonesia.
Sumber : Buku perekonomian indonesia (pertumbuhan dan krisis)

